TIMIKA, pojokpapua.id – Sudah berjalan sekitar 11 tahun sejak didirikan Tahun 2012 lalu, Koperasi Buah Dewa salah satu koperasi binaan PT Freeport Indonesia untuk menjalankan program ketahanan pangan dan perkebunan di Kampung Utikini Baru SP 12 terus menunjukkan kemajuan dan kemandirian.
Itu tergambar dari salah satu capaiannya yang mampu membangun Rumah Kakao dan Pertanian menggunakan hasil usaha. Gedung dengan konstruksi permanen ini diresmikan Jumat (13/10/2023) oleh Vice President Sutainable Development PT Freeport Indonesia, Nathan Kum bersama tokoh masyarakat, Devia Mom, perwakilan Dinas Tanaman Pangan Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Mimika, Simon Yarangga serta pihak Karantina Pertanian dan tamu undangan.
Vice President Sutainable Development PT Freeport Indonesia, Nathan Kum mengatakan PT Freeport Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung program ketahanan pangan salah satunya lewat Koperasi Buah Dewa. Dimana masyarakat asli Papua yang menjadi anggotanya dibina untuk mengembangkan tanaman yang bernilai ekonomi seperti kakao, pisang, ubi, keladi dan lainnya.
Pola pembinaan ini menyesuaikan dengan budaya masyarakat lokal yang memang hidup berkebun. Perusahaan tinggal memfasilitasi dalam hal pembinaan dan pelatihan serta menampung hasil kebun meskipun masih terbatas sesuai kebutuhan di perusahaan.
Sehingga dengan adanya gedung atau rumah kakao dan pertanian ini bisa menjadi tempat untuk pembinaan secara kolaborasi antara Pemkab melalui OPD teknis dan Freeport dalam rangka peningkatan hasil produksi. “Tujuan kita, masyarakat harus mandiri. Tidak hanya di SP 12 tapi masyarakat kita 7 suku dan Papua lain harus mandiri. Ini harapan kita ini bisa dikembangkan supaya hasilnya bisa terus bermanfaat,” jelasnya.
Manager Community Development PTFI, Yohanes Bewahan menambahkan, untuk program ketahanan pangan dan perkebunan, sekitar 200 hektar kakao sudah ditanam oleh masyarakat. Pemerintah dan masyarakat siapkan lahan, sementara Freeport menyiapkan bibit juga transportasi serta pelatihan baik langsung di kebun mapun dalam ruangan.
Tujuan program ini dalam rangka mempersiapkan ekonomi masyarakat pasca tambang. Menurutnya, secara perlahan mulai menuju ke kemandirian yang tergambar dari berhasilnya Koperasi Buah Dewa dalam membangun gedung secara mandiri menggunakan hasil usaha baik itu penjualan kakao, keladi, ubi, petatas dan hasil kebun lainnya. “Jadi koperasi yang kami bentuk dan bina ini mulai mandiri, gedung dibangun dari hasil keuntungan,” tandasnya.
Tokoh masyarakat , Devia Mom mengatakan gedung yang baru diresmikan adalah hasil usaha dari Koperasi Buah Dewa yang dikumpulkan setiap bulan selama beberapa tahun. “Kita ada penjualan kakao, hasilnya kalau ada lebih kita kumpulkan untuk bangun. Murni hasil usaha dari penjualan kakao,” jelas Devia.
Ia menggagas pembangunan gedung untuk dijadikan tempat pembinaan bagi masyarakat yang menurutnya mulai kendor dalam berkebun akibat pengaruh moderen. Devia menegaskan, budaya orang gunung adalah bertani sehingga harus terus dipertahankan lewat pelatihan. Apalagi jumlah anggota koperasi yang mencapai ratusan orang menjadi sumber daya yang potensial untuk menjaga ketahanan pangan.
Khusus untuk tanaman kakao, hasilnya menurut Devia, memang masih sangat rendah. Dalam tiga bulan sekitar 500 kilogram namun tetap dikirim yang hasil penjualannya digunakan untuk menjalankan koperasi.
Untungnya, koperasi tidak hanya bergantung dari penjualan kakao. Koperasi ini juga menjadi salah satu suplier ke PT Pangan Sari Utama, khusus menyediakan pangan lokal seperti ubi, pisang dan keladi. Kuota untuk Koperasi Buah Dewa memang masih terbatas, hanya 50 kilogram sekali penimbangan. Sehingga koperasi harus mengatur jadwal setiap petani agar tidak terjadi penumpukan.
Gedung baru ini menjadi tempat penimbangan. Sehingga petani yang terjadwal, datang membawa hasil kebun untuk ditimbang, yang selanjutnya dikirim ke PT PSU. Rumah Kakao dan Pertanian ini memiliki beberapa ruangan yang difungsikan untuk kantor, ruang pertemuan atau pelatihan serta tempat pendaftaran dan penimbangan.(*)








Komentar