TIMIKA – Wakil Ketua II DPRD Mimika, Yohanis Felix Helyanan Selasa (28/6/2022) menyebut pelayanan sekuriti Bandara Mozes Kilangin belum humanis. Itu dialami sendiri oleh Jhon Tie ketika hendak bepergian melalui Bandara Mozes Kilangin.
Ia mengaku mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan ketika mengenakan pakaian biasa seperti masyarakat pada umumnya dan mengikuti jalur antrian dan tahapan pemeriksaan sebelum masuk ke ruang tunggu bandara. Oknum petugas sekuriti yang sedang bertugas di pintu masuk keberangkatan malah mencecarnya dengan pertanyaan yang kasar. Bukan hanya dirinya tapi juga kepada penumpang lain.
“Ini sudah banyak pengaduan dari masyarakat, seringkali diperlakukan tidak baik, ada ibu-ibu atau orang tua baru masuk di pintu depan saja, itu adakalanya dicegat, dicecar dengan segala macam pertanyaan, inikan membuat orang tidak nyaman, saya minta petugas yang arogansi itu ditertibkan,” tegasnya.
John Tie memahami tugas sekuriti untuk mengamankan objek vital seperti bandara. Namun, ia berharap tidak arogan kepada masyarakat. Seperti di bandara besar Soetta atau Bandara Sentani yang lebih ramah.
“Di sini mereka terlalu berlebihan, gerakannya itu sampai-sampai mencegat orang tidak sopan, tidak manusiawi, saya juga sengaja pakai pakaian biasa, saya dicegat, apakah saya harus pakaian rapi supaya dilayani baik, ini tidak boleh semua harus dilayani secara humanis,” ungkapnya.
Persoalan ini sudah diadukan kepada pengelolan bandara dalam hal ini Kepala UPBU Mozes Kilangin dan direspon dengan mengumpulkan sekuriti untuk diberi pembinaan. Bahkan katanya, sudah memberhentikan tiga oknum petugas yang terbukti bertindak arogan. Tidak hanya soal arogansinya, ia juga menyoroti pekerja Bandara Mozes Kilangin yang didominasi pekerja dari luar Timika dna bukan Orang Asli Papua.
Menanggapi sorotan tersbeut Kepala UPBU Mozes Kilangin, Asep Soekardjo saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/6/2022) ia membenarkan adanya persoalan di pintu keberangkatan bandara yang dialami oleh Wakil Ketua II DPRD Mimika terjadi pada 9 Juni 2022 lalu.
Asep yang kebetulan berada di lokasi mengatakan kejadian itu merupakan kesalahpahaman yang melibatkan karyawan kontrak yang dipekerjakan pihak ketiga. Namun ia langsung menyelesaikan persoalan dan menyampaikan permohonan maaf.
“Kami sudah memanggil dan membuat arahan, harapan kami ke depan tidak terjadi lagi, selisih paham mudah-mudahan tidak terjadi lagi, mohon maaf kalau itu membuat tidak nyaman, kami akan berusaha itu untuk merubah,” ujarnya.
Lanjut Asep, pihaknya secara perlahan juga akan merubah pola kerja dalam pelayanan publik di bandara. Dengan kerja sama pihak ketiga yang mengurus petugas dan karyawan di bandara tambah Asep, pihaknya juga sudah memberi masukan terkait masih kurangnya petugas OAP di bandara. “Terima kasih atas masukan ini, kami juga akan memberi masukan kepada pengelola atau pihak ketiga yang mendapatkan kontrak kerja sama pengadaan jasa petugas di bandara,” imbuhnya.(*)










Komentar